~ It's simple. Just say what you want (Don't say what you don't want)... ~

Saturday, September 18, 2010

Seandainya Sang Nabi Bangkit dari Kubur





Mungkin Dia akan mencari manusia berhati terbuka dan tidak fanatik. Ada hal yang ingin dibicarakan tapi syaratnya hati yang mendengarkan terbuka pada kebenaran apa adanya. Bagaimana mungkin sang nabi bisa bicara panjang lebar kalau yang mendengarkan selalu menyanggah dan tidak menerima apa yang sedang dibicarakannya? Dari pengalaman hiduplah, sang nabi memahami tidak semua manusia bisa diajak bicara dari hati ke hati. Dari gubuk reot kehidupan yang dipandang hina, Dia pun menguraikan fakta-fakta kehidupan yang terlupakan manusia dunia kepada mereka yang terbuka hatinya.

Manusia diciptakan bukan untuk agama, melainkan agama diciptakan untuk manusia. Bila agama berada di atas nilai kemanusiaan, maka kefanatikan akan memicu perang antar sesame manusia. Maka sang nabi pun berujar, kemanusiaan di atas segala-galanya dan manusia lebih berarti daripada agama itu sendiri. Demikian pula kehidupan manusia, tidak diciptakan untuk aturan agama, melainkan aturan agama diciptakan untuk manusia. Mengapa bersikukuh bahwa manusia harus hidup dengan pakaian begini atau ritual begitu? Semua itu dibuat untuk manusia sebagai sarana, bila tidak nyaman, carilah nuansa yang tepat sesuai jaman. Jangan dipaksakan karena sudah dibuat dari dulu.

Sandal ibumu dibuat dari bambu, lalu dipakai setiap hari. Generasi anak ibu itu kini mengikuti tradisi ibunya, memakai sandal dari bamboo, padahal sekarang sudah banyak sandal buatan dari karet yang lebih empuk. Apakah bijak mempertahankan sandal bambu karena tradisi seperti itu? Intinya ada pada sandal yang dijadikan sarana untuk melindungi kaki. Bila jaman memberikan sarana yang lebih baik, kenapa tidak dipakai? Toh, inti dari fungsi utamanya tidak hilang, tetap berguna melindungi kaki. Cara manusia jaman sekarang mengartikan tradisi dan ritual pun seperti robot program yang tak punya akal budi untuk memahami pengertian dari keberadaan jaman dan fungsinya,

Sang nabi mungkin akan berbicara sembari minum teh dan tertawa lepas menikmati kesederhanaan. Beragama itu harusnya menjadi sederhana menjalani hidup dalam iman. Bukan untuk mendapatkan kemewahan dan dijadikan pekerjaan mencari uang. Agama adalah sarana pelayanan kepada banyak orang yang ingin mencari Tuhan, jadi rejeki yang didapatkan oleh mereka yang mengajar agama harusnya dari Tuhan saja. Lha, kalau pasang tariff, nabi siapa yang mengajari seperti itu? Dulu, saat para nabi agama masih hidup, mereka mendalami iman bukan seperti orang jualan ayat-ayat Tuhan, melainkan diterapkan dalam kepribadian dirinya sendiri, lalu dipraktekkan dalam kehidupan berkeluarga bersama isteri dan anak di rumah. Pekerjaan ya biasa saja, mencari nafkah dengan bekerja apa saja, yang penting halal dan tidak merugikan kehidupan orang lain.

Sang nabi pun mungkin akan berargumentasi dengan para pakar yang merasa kebenaran ada di tangan mereka. Bagaimana mungkin kebenaran itu ada di pihak manusia-manusia yang mewakili agama? Kebenaran itu hanya diketahui oleh yang menjalani dan Tuhan di dalam dirinya sendiri. Manusia lain tentu saja mempunyai pengalaman tentang kebenaran, tapi tidak ada yang mutlak, sebab setiap orang mempunyai jalan hidupnya masing-masing. Jadi jangan meracuni manusia lain dengan kebenaran egois, ceritakan saja pengalamanmu lalu kembalikan lagi kepada pendengar, apakah cocok untuk diri mereka atau tidak. Jika tidak, ya sarankan carilah jalan yang lebih cocok dengan kesadaran dirinya, jadi ngga ada paksaan yang berujung pada perebutan massa demi kehebatan agamanya. Coba tanya lagi, ajaran nabi mana yang menyuruh memaksakan kebenaran agamanya agar terlihat hebat. Harusnya yang hebat itu manusianya, kepribadian dan karakter hidupnya, bukan agamanya yang dihebatkan.

Sang nabi pun harus mengelus elus dada melihat tingkah manusia jaman sekarang. Banyak yang beragama, tapi hatinya tidak mengenal kebenaran Tuhan. Banyak yang rajin melakukan ritual tanpa lelah, tapi lupa mempraktekkan ajaran cinta kasih pada sesama. Kesejukan datang dari kenyamanan dan kenyaman datang dari kepribadian yang mengerti dan memahami perbedaan. Sekarang bagaimana bisa nyaman dan sejuk, mengerti etika hidup dalam perbedaan saja tidak peduli. Harusnya manusia jaman sekarang bukan belajar agama, tapi belajar etika dan norma, kemudian berlanjut pada pendalaman psikologi diri, lewat pengembangan diri. Baru dari situ jalan menuju Tuhan akan dimengerti dengan sejuk dan nyaman. Ahhh, seandainya sang nabi bangkit dari kubur, mungkin umatnya sendiri yang akan membungkam suaranya, lalu dengan terang-terangan mengatakan sesat dan disiksa sampai mati.

1 comment:

  1. salam sahabat
    ehm semoga kata ANDAI ini membuahkan sebuah makna yang mendalam xixixi good luck

    ReplyDelete