~ It's simple. Just say what you want (Don't say what you don't want)... ~

Tuesday, September 28, 2010

Berani Menelanjangi-diri?





Sungguh tidak mengenakkan rasanya bila ‘ditelanjangi’ orang lain, apalagi itu dilakukan di hadapan banyak orang. Oleh karenanya, jauh lebih baik bila kita berani dan mampu menelanjangi-diri sendiri, sebelum ditelanjangi orang.

Sementara itu, kendati berani, tidaklah mungkin bisa menelanjangi diri sendiri bila kita senantiasa mengarahkan perhatian ke luar. Untuk bisa menelanjangi diri sendiri, kita mesti mengarahkan perhatian ke dalam, ke dalam diri sendiri. Apa yang kita peroleh dari hanya mengarahkan perhatian ke luar selama ini bisa saja dijadikan sebagai pembanding; namun itu bukanlah hal sedemikian pentingnya. Yang lebih penting adalah bagaimana melihat diri sendiri secara cermat, secara mendalam, dengan jujur dan benar-benar objektif, tanpa penolakan, tanpa berusaha mencari-cari pembenaran atasnya dan berani mengakuinya kalau memang demikianlah adanya.

Mengakui diri sebagai serakah, penuh iri dan dengki, penuh kebencian, tidak jujur, suka berpura-pura, angkuh, egois, suka meninggikan diri, mementingkan diri sendiri, mau menang sendiri dan sebagainya, benar-benar butuh seporsi besar kejujuran dan keberanian. Makanya, tidak mudah dilakukan; tak banyak orang yang berani melakukannya. Disini, rasa iba-diri seakan-akan mengharuskan seseorang untuk mengadakan pembelaan-diri, mencari-cari dalih, alasan, kambing-hitam, bahkan pembenaran.

Namun, bilamana keberanian dan kejujuran Anda punyai, menelanjangi-diri bukan lagi sesuatu yang sedemikian sulitnya; daripadanyalah roda revolusi mental dan spiritualpun akan berputar ke depan dengan sendirinya.

»»  READMORE...
READ MORE - Berani Menelanjangi-diri?

Berani benar-benar Telanjang?






Sesuatu yang ‘spesial’ bagi kita umumnya tampak menarik, membangkitkan selera dan rasa kagum. Apa yang spesial bagi Anda? Anda tahu itu bukan? Kitapun tahu kalau, apa yang spesial bagi kita, belum tentu spesial juga bagi orang lain. Ini erat kaitannya dengan pengalaman, ingatan, dan tentunya selera masing-masing. Sesuatu yang spesial bagi saya boleh jadi harus buatan luar-negri, berharga mahal, sangat langka dimana hanya beberapa orang saja yang memilikinya di dunia ini; akan tetapi bagi Anda boleh jadi itu malah tidak spesial sama-sekali. ‘Memahami diri sendiri’ mungkin sesuatu yang tidak spesial, atau bahkan remeh bagi Anda atau banyak orang, karena Anda telah merasa memahami diri Anda. Tapi tunggu dulu; benarkah Anda memahami diri Anda? Benarkah? Atau malah jangan-jangan apa yang Anda sangka sebagai diri kalian itu hanyalah ‘apa yang dikatakan orang tentang Anda’ dimana itu kalian rasakan sebagai menyenangkan, sesuai dengan apa yang kalian harapkan, cita-citakan, sehingga Anda menerimanya dengan senang-hati. Tidakkah begitu? Periksalah kawan! Anda adalah sesosok pribadi yang sangat spesifik, unik, sangat spesial, tiada duanya. Bahkan kembaran Andapun tidak persis sama dengan Anda. Makanya, bukankah sesuatu yang amat sangat menarik untuk memahami diri Anda sendiri? Anehkah kalau saya malah merasa heran kalau Anda tidak melihat bahwasanya memahami diri sendiri adalah sesuatu yang amat sangat spesial? Agaknya sudah berkali-kali disampaikan sebelumnya kalau, guna memahami diri sendiri kita mesti menyelam jauh ke dalam si diri, ke dalam —apa yang selama ini kita sangka sebagai— diri kita ini. Dan itu, juga bisa berarti ‘penelanjangan-diri’ sepenuhnya. Kita telanjang kalau hendak mandi, hendak membersihkan tubuh ini dari semua kekotoran-kekotorannya. Demikian juga halnya bila kita hendak ‘membersihkan-diri’, ‘memurnikan-diri’ kita. Kita mesti melucutinya dari semua atribut, dari semua polesan, dari semua embel-embel yang dikenakannya selama ini —baik yang menyenangkan pun tak menyenangkan. Beranikah Anda benar-benar telanjang?
»»  READMORE...
READ MORE - Berani benar-benar Telanjang?

Thursday, September 23, 2010

Filsafat dan Tasawuf




Para Pemikir -- Tasawuf dipahami sebagai mistisisme Islam -kadang disebut juga Sufisme- (karena dinisbatkan kepada ahli tasawwuf yang disebut sufi). Tasawuf dimasukkan oleh Ibn Khaldun ke dalam kelompok ilmu-ilmu naqliyyah (agama). Sebagai salah satu ilmu naqliyyah, maka tasawuf, didasarkan pada otoritas, yaitu Al-Qur’an dan Hadits, dan bukan pada nalar rasional seperti filsafat.

Tasawuf dan Filsafat memang bisa kita bedakan, karena sementara yang pertama bertumpu pada wahyu dan penafsiran esoterik (batini) sedangkan yang kedua bertumpu pada akal.

Meskipun begitu, tidak selalu berarti bahwa kedua disiplin ini bertentangan satu sama lainnya. Walapun untuk kebanyakan orang, filsafat akan terasa aneh karena mereka hanya menafsirkan agama secara harfiah atau eksoterik.

Menurut Ibn Rusyd, kalau terkesan bahwa filsafat seolah-olah bertentangan dengan agama, maka kita harus melakukan ta’wil kepada naskah-naskah agama. Alasannya adalah karena naskah-naskah agama bersifat simbolis dan kadang memiliki banyak makna.

Dari sudut boleh tidaknya penafsiran eksoterik atau ta’wil, maka filsafat dan tasawuf, seiya-sekata. Tetapi dilihat dari metode penelitiannya maka keduanya berbeda.

Filsafat memanfaatkan dimensi rasional pengetahuan, sementara tasawuf dimensi spiritual. Namun, karena keduanya (dimensi rasional dan spiritual) adalah dimensi sejati dari kebenaran sejati yang sama, maka keduanya berpotensi untuk saling melengkapi.

Menurut Al-Farabi dan Ibn Sina, sumber pengetahuan para filosof dan para nabi (termasuk para sufi), adalah sama dan satu, yaitu akal aktif (al-’aql al-fa’al), atau malaikat Jibril dalam istilah agamanya. Hanya saja sementara para filosof mencapai pengetahuan darinya (akal aktif) melalui penalaran akal-beserta latihan yang intensif, sementara para Nabi (sufi) memperolehnya secara langsung tanpa perantara.

Sementara itu, untuk memperoleh pengetahuan para filosof menggunakan penalaran diskursif, para Nabi (sufi) menangkapnya lewat daya mimitik imajinasi (menurut Al-Farabi) atau akal suci atau intuisi (menurut Ibn Sina).

Sehingga bisa kita saksikan bahwa, bahasa filsafat bersifat rasional, sementara bahasa profetik/mistik bersifat simbolis dan mistis. Namun menurut kedua filosof muslim tersebut, baik filsafat maupun tasawuf berbicara tentang kebenaran yang sama. Hanya saja mereka menggunakan cara dan bahasa yang berbeda.

Perbedaan yang mencolok antara modus pengenalan rasional dan pengenalan intuitif atau mistik adalah, bahwa pengetahuan akal membutuhkan “perantara”, berupa konsep atau representasi-semisal kata-kata atau simbol-untuk mengetahui objek yang ditelitinya. Dan mungkin karena itu, maka modus pengenalan rasional (falsafi) disebut ilmu hushuli (acquired knowledge).

Untuk mengetahui pikiran seorang misalnya, kita harus mempelajari pikiran-pikirannya dengan membaca tulisan-tulisan atau mendengarkan ceramah-ceramahnya. Berbeda, tentunya, dengan orang itu sendiri, ketika ia ingin memahami pemikiran-pemikirannya sendiri, ia tidak perlu atau tergantung pada kata-katanya, karena orang itu dapat memahaminya dengan begitu saja, tanpa representasi apapun.

Oleh karena sifatnya yang tidak langsung itulah, maka pengetahuan rasional tidak bisa betul-betul menangkap objeknya secara langsung. Modus pengetahuan seperti itu, menurut Rumi, akan sama dengan orang yang berusaha memetik setangkai bunga mawar dari “M.A.W.A.R.”

Anda, kata Rumi, “tidak akan mampu memetik mawar dari M.A.W.A.R., karena anda baru menyebut namanya. Cari yang empunya nama!”.

Berbeda dengan modus pengenalan rasional, pengenalan intuitif atau mistik (seperti yang dialami oleh para Sufi atau nabi) bersifat langsung, dalam arti tidak butuh pada simbol atau representasi apapun. Ia tidak butuh pada bacaan, huruf atau bahkan konsep dan sebangsanya.

Contoh yang mudah dari pengenalan seperti ini adalah, misalnya, pengetahuan kita tentang diri kita sendiri, atau yang biasa disebut self-knowledge. Untuk mengetahui diri kita sendiri, apakah kita perlu perantara, seperti halnya ketika kita hendak mengerti orang lain? Tentu saja tidak.

Kita tahu tentang diri kita-dengan begitu saja, karena keinginan kita dengan diri kita adalah satu dan sama. Pikiran kita misalnya, bahkan bisa dikatakan telah menyatu dengan diri kita. Ia hadir dan dan tidak bisa dipisahkan lagi dari diri kita. Itulah sebabnya, mengapa modus pengenalan ini disebut ilmu hudhuri (knowledge by presence / presential knowledge).

Karena objek yang diteliti (misalnya pikiran atau keinginan) telah hadir dalam diri kita, bahkan telah menyatu dalam diri kita, maka terjadi kesatuan (identitas) antara subjek dan objek, antara yang berpikir dengan yang dipikirkan, antara alim dan maklum. Akibatnya, maka pengetahuan kita tentang objek tersebut (yang tidak lain dari pada diri kita sendiri) adalah sama dan satu. Di sini kita mengalami bahwa “mengetahui” (to know) adalah sama dengan “ada” itu sendiri (to be).

Meskipun tasawuf dikategorikan oleh Ibn Khaldun sebagai ilmu naqliyyah (agama) dan karena itu berdasarkan pada otoritas, namun menurut kesaksian Ibn Khaldun sendiri dalam Al Muqaddimah-nya, Tasawuf, pada perkembangan berikutnya, telah banyak memasuki dunia filsafat , sehingga sulit bagi keduanya untuk dipisahkan.

Dalam kasus filsafat suhrawardi, misalnya, kita bisa melihat bahwa tasawuf bahkan telah dijadikan dasar bagi filsafatnya, sehingga orang menyebutnya filosof mistik (muta’allih). Sementara pada diri Ibn “Arabi, kita melihat analisis yang sangat filosofis merasuki hampir setiap lembar karya-karyanya. Sehingga tasawufnya sering disebut tasawuf falsafasi. Pada masa berikutnya, kita tahu bahwa Mulla Shadra, pada akhirnya telah dapat mensintesiskan keduanya, dalam apa yang kita sebut filsafat Hikmah Muta’aliyyah, atau teosofi transenden. Disini, unsur-unsur filosofis dan mistik berpadu erat dan saling melengkapi satu sama lain.



»»  READMORE...
READ MORE - Filsafat dan Tasawuf

" ngundhuh wohing pakarti "



Inilah salah satu konsep dasar untuk mengendalikan kelangsungan peradaban kehidupan manusia.

Ngundhuh Wohing Pakarti

Ngundhuh = memanen, menuai, memetik hasil
Woh = buah
Ing = pada, dalam hal
Pakarti = perbuatan, tindak tanduk, tingkah laku

Jadi Ngundhuh Wohing Pakarti maknanya kurang lebih adalah Menuai hasil perbuatan sendiri.

Konsep ini diadopsi oleh berbagai peradaban, agama dan kepercayaan untuk menjaga agar proses kehidupan tetap berlangsung.

Dalam beberapa agama diperkenalkan konsep adanya perbuatan baik yang berujung ke sorga dan perbuatan jelek yang berujung ke neraka.

Dalam agama atau kepercayaan yang lain dikenal juga adanya Karma terhadap seluruh perbuatan yang sudah dilakukan.

Tujuan semua ini adalah untuk medorong manusia untuk selalu berbuat baik dengan harapan akan memperoleh kebaikan.
Dan secara general konsep "kebaikan" sifatnya universal di seluruh peradaban tanpa pernah ada konsensus bersama, tapi muncul dari kesadaran diri sebagai manusia.

Sederhananya, peribahasa Jawa itu setara lah denganHukum Karma. Tepatnya, dapat diartikan sebagai menuai atau memetik hasil perbuatan. Dalam bahasa Indonesia, ada peribahasa yang senada; tak ada asap maka tak ada api. Dalam Fisika, ada Hukum Aksi-Reaksi.

Sebagai orang Jawa –walaupun asal-turunnya entah dari mana–, juga sesuai agama yang saya anut, saya sangat percaya pada ngundhuh wohing pakarti itu.

Orang bijak selalu bertindak hati-hati, berfikir jauh ke depan jika akan melakukan suatu pekerti, karena mereka yakin, apa yang mereka lakukan akan kembali pada diri sendiri. Jika melakukan pekerti yang baik maka akan mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya jika melakukan pekerti yang buruk juga akan kembali pada diri sendiri. Jika melakukan pekerti yang merugikan orang lain pun suatu saat diri sendiri yang akan merugi.

Menurut petuah religi, hanya pada umat terdahulu wohing pakarti akan diberikan serta-merta. Pada umat terkini, akan hanya sebagian kecil diserta-mertakan dan sebagian besar ditunda hingga akhir zaman.

Barangkali karena itulah umat terkini semakin tidak semena-mena. Berbuat apa saja sekehendak hatinya tanpa sadar bahwa wohing pakarti pasti akan dituai nantinya.

»»  READMORE...
READ MORE - " ngundhuh wohing pakarti "

Wednesday, September 22, 2010

Menemui TUHAN



“Kamu tahu, Kawan? Siapa yang paling ingin aku temui saat ini?”

“Siapa?”

“Tebak dong!”

“Doraemon?”

“Bukan.”

“Bakabon?”

“Bukan.”

“Tak tahu lah. Setahu aku cuma mereka yang kau suka.”

“Tuhan...”

“Haah...?“

“Iya, aku ingin bertemu Tuhan.”

“Gila kamu!”

“Kenapa gila? Kamu tahu siapa yang menciptakan dunia?”

“Tuhan.”

“Kamu tahu siapa yang menciptakan manusia?”

“Tuhan.”

“Kamu tahu siapa yang menciptakan Doraemon dan Bakabon?”

“Itu manusia, tolol!”

“Oh ya? Jadi bukan Tuhan?”

“Tolol!”

“Tapi kamu tahu betapa hebatnya Tuhan?”

“Tolol! Tanpa kau bilang, aku juga tahu Tuhan itu hebat. Lagi pula bisa masuk neraka aku kalau menyangkalnya.”

“Jadi kamu setuju sama aku, kan?”

“Tolol! Kamu tahu bisa masuk neraka aku kalau tak setuju.”

“Bagus, berarti aku benar‐benar harus bertemu Tuhan...”

“Shalat lah kau!”

“Apa kau bilang?”

“Kau bilang ingin bertemu Tuhan. Shalat lah, berdoa pada‐Nya. Minta semua yang kau inginkan, Kawan...”

“Benarkah? Apa kau yakin Tuhan akan memberikannya?”

“Tuhan pasti mendengarkan doa orang baik.”

“Apa aku cukup baik?”

“Entahlah, kau coba saja sendiri.”

“Tapi apa itu shalat?”

“Tolol!!!”

“Aku sudah mengerti gerakan shalat, Kawan.”

“Baguslah...”

“Aku juga sudah berdoa pada Tuhan.”

“Baguslah.”


“Tapi kau bohong.”

“Kenapa?”

“Kau bilang jika aku shalat aku bisa bertemu Tuhan.”

“Haha... Tolol!”

“Kenapa?”

“Mati dulu sana kalau kau benar‐benar ingin bertemu Tuhan.”

“Benarkah?”

“Tolol, sedang apa kamu di situ?”

“Aku mau bertemu Tuhan, Kawan...”

“Tolol, bisa mati kamu!”

“Memang. Bukankah kemarin kau yang bilang, kalau aku mati aku bisa bertemu Tuhan. Oh ya, ada pesan yang ingin kau titipkan?”

“Gila kamu!”

“Sampai juga lagi, Kawan...”

“Hei tunggu...”

“Ada apa lagi, Kawan?”

“Kamu pikir aku serius, hah?”

“Apa maksudmu?”

“Sudah kau turun dulu. Nanti aku beritahu cara bertemu Tuhan.”

“Apa? Jadi ada cara lain?”

“Iya. Turunlah...”

“Apa kau serius?”

“Iya. Turunlah...”

“Oke...”

“Kenapa kamu begitu tolol, Kawan?”

“Sudah berapa kali kau bilang aku tolol, hah?”

“Kau tahu kalau sampai kau mati, Tuhan takkan sudi menemuimu.”

“Benarkah?”

“Ya, mayatmu akan gentayangan. Kau akan jadi hantu!”

“Tapi kemarin kau yang bilang begitu.”

“Ya, memang kalau kau mati kau bisa bertemu Tuhan. Tapi bukan dengan cara begitu. Itu sama saja kau bunuh diri. Kau tahu, Tuhan paling murka dengan mati bunuh diri.”

“Begitukah?”

“Ya...”

“Aku punya ide, Kawan!”

“Aku yakin ide tolol.”

“Kau bunuh saja aku, Kawan!”

“Gila!”

“Kenapa? Aku kan tidak bunuh diri...”

“Iya, tapi aku yang rugi.”

“Hmmm.. aku ada ide lain.”

“Aku tak mau dengar ide tololmu...”

“Lihat. Kau lihat si Gendut itu, Kawan. Aku akan mengejek dan memukulnya hingga ia kesal. Lalu aku terus mengejek dia hingga ia tak tahan. Ia pukul aku. Tapi tak aku lawan. Aku akan menyerahkan kematianku di tangannya.”

“Kau sudah benar‐benar gila, ya?”

“Tapi kau kan tak rugi kawan. Lagi pula, si Gendut itu pantaslah rugi sedikit agar pikirannya tak terlalu senang, dan perutnya bisa kurusan...”

“Kau pikir Tuhan tidak melihat, hah? Asal kau tahu, Tuhan sedang memata‐matai kita. Ia sedang mengikuti dan melihat kita.”

“Apa? Benarkah? Jadi dari tadi Tuhan melihat kita?”

“Bukan dari tadi, tapi dari dulu, tolol!”

“Lalu di mana Dia? Kenapa Dia bersembunyi? Ah kau pasti menipuku lagi...”

“Aku serius, Kawan.”“Benarkah? Kau tahu di mana Dia? Kau yang menyembunyikannya?”

“Ya Tuhan, ampunilah kawanku yang tolol ini...”

“Hei, sekarang kau bicara pada‐Nya! Ayo katakan di mana kau menyembunyikan‐Nya?”

“Dia ada di sini, tolol. Dia ada di depan kita. Dia ada di belakang kita. Dia ada di bawah kita. Dia ada di atas kita. Dia ada di kanan kita. Dia ada di kiri kita. Dia ada di mana‐mana...”

“Hah, jangan kau pikir aku tolol!”

“Memang kau tolol!”

“Oke, aku percaya. Jadi apa cara lainmu itu agar aku bisa bertemu Tuhan?”

“Mana aku tahu?”

“Jadi kau membohongi aku?”

“Aku menyelamatkanmu, tolol! Aku kan sudah bilang kau tak akan bisa bertemu Tuhan kalau kau mati bunuh diri. Kau tak perlu buru‐buru, Tuhan sudah punya jadwal kapan akan menemuimu. Ia sudah menentukan itu.”

“Jadi maksudmu, aku harus bersabar?”

“Bukan cuma bersabar, kau harus beriman. Kau harus beribadah. Terutama shalat...”

“Tapi aku tidak yakin, Kawan...”

“Kenapa? Kau meragukan Tuhan?”

”Aku cuma tahu gerakan shalat. Aku tidak tahu bacaan shalat. Kamu tahu, aku seperti sedang senam. Mana mungkin dengan hanya senam doaku dikabulkan?”

“Ya, belajarlah. Tuhan suka orang yang mau belajar. Jangan lupa kau berdoa.”

“Aku juga tidak yakin, Kawan...”

“Kenapa?”

“Aku tidak bisa bahasa Arab...”

“Kau pikir Tuhan orang Arab?”

“Tapi bagaimana kalau sampai lusa ia tidak datang? Bagaimana kalau doaku tak dikabulkan? Apa jadinya aku, Kawan?”

“Lusa? Memangnya kau minta apa sama Tuhan?”

“Aku terancam tidak naik kelas empat, Kawan. Aku ingin Tuhan menambahkan sedikit garis di angka empat di raporku agar berubah jadi sembilan.”“TOLOL!!!”


»»  READMORE...
READ MORE - Menemui TUHAN

Siapakah Anda?



Siapa Anda?

“Anda siapa?”, tanya Guru kepada seorang tamu yang hendak meminta petunjuk beliau.

“Saya Basri”, jawabnya.
“Saya tidak menanyakan nama Anda”
“Oh ...saya seorang penulis tetap di sebuah harian dan sejumlah tabloid Ibukota”
“Saya tidak menanyakan apa profesi Anda. Tapi siapa Anda?”
“Oh ya ...saya lupa memperkenalkan diri kalau saya orang Sumatra, lahir dari ibu Padang dan ayah Batak Pak ...”
“Saya tidak menanyakan dari etnis mana Anda.

Sekali lagi, yang saya tanyakan: Siapa Anda?”, seraya menunjuk si penulis. “? ? ?” [‘Mesti jawab apa ya?’ Begitu pikir si penulis itu]







inilah pertanyaan spiritual terpenting, yang tentu tak bisa --dan meemng tak perlu-- dijawab secara intelek.

»»  READMORE...
READ MORE - Siapakah Anda?

Memperbaiki Diri Sendiri








Sibuklah untuk memperbaiki dirimu dan kebaikanmu. Tinggalkan bicara ini dan itu, tinggalkan kerumitan duniawi, maka anda akan lepas dari problemamu menurut kemampuanmu.

Waspadalah! Anda bisa mengambil pejaran dari kehidupan manusia terdahulu seputar dunia ini. Karenanya, bersihkan hatimu dari dunia, maka anda bisa melepaskan segala hal selain Allah Azza wa-Jalla dari jiwamu. Bila selain Dia Azza wa-Jalla masih mengikuti nafsu, maka tundukkan nafsumu, pada saat itulah anda melihat Tuhanmu Azza wa-Jalla. Pasrahkan semua kepadaNya, maka anda selamat. Mujahadahlah menuju DiriNya, maka anda meraih hidayah. Syukurlah padaNya, Dia akan menambah nikmatNya padamu, serahkan dirimu dan makhluk lain padaNya. Jangan sampai anda kontra padaNya dalam dirimu, juga jangan kontra pada selainmu.

Kaum Sufi tidak akan pernah berhasrat, ketika bersama Allah Azza wa-Jalla, dan tidak punya pilihan ketika bersama pilihanNya. Jangan sampai mereka berambisi mencari atau berebut bagian dariNya, begitu pula tidak mencari nikmat yang diberikan pada orang lain. Bila anda ingin bergabung dengan kaum sufi dunia dan akhirat, maka berserasilah dengan firmanNya, tindakan dan kehendakNya.

Saya melihat anda malah berbalik, dan berbuah kontra dan berbeda denganNya, malam dan siang. Ketika Allah Azza wa-Jalla berkata, “Kerjakan!” dan anda malah tidak mengerjakan. Seakan akan malah Allah Azza wa-Jalla jadi hamba dan anda menjadi yang dihamba.

Maha Suci Dia Azza wa-Jalla yang penuh dengan welas asihNya. Seandainya bukan karena rasa asihNya, pasti aku melihat semuanya yang kontra dalam dirimu. Bila anda ingin bahagia, diamlah di hadapanNya. Diam lahir dan batin pun sungguh merupakan su’ul adab bagiku, bahwa Dia menyilakannya karena sebagai bentuk keringanan belaka.

Karena itu lakukanlah perintahNya dan jauhi laranganNya, berserasilah dengan takdirNya, diamlah lahir dan batinmu di hadapanNya, maka anda akan melihat kebajikan dunia dan akhirat. Jangan minta pada makhluk, karena makhluk itu sangat lemah, sangat butuh, tidak memiliki apa pun, apalagi untuk lainnya, baik itu bahaya maupun manfaat.

Bersabarlah bersama Allah Azza wa-Jalla, jangan tergesa-gesa, dan jangan pula bakhil padaNya, jangan pula mencurigaiNya. Itu akan lebih bagus bagimu, darimu, untukmu. Maka sebagian sufi mengatakan, “Hai! Hati-hati padaku dan dariku! Kalian berserasi saja dengan Allah Azza wa-Jalla, karena Dialah Yang Maha Tahu pada kalian, bersama kalian. Karena tridak semua yang baik menurutmu, itu direkomendasi olehNya. Allah Azza wa-Jalla berfirman:

“Siapa tahu bila kalian tidak suka terhadap sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian. Dan siapa tahu kalian mencintai sesuatu, sedangan hal itu lebih buruk bagi kalian. Allah Maha Tahu dan kalian tidak tahu.” (Al-Baqarah : 216)

]“Dan Allah menciptakan hal-hal yang kalian tidak tahu.” (An-Nahl :

“Dan kalian tidak diberi ilmu, kecuali hanya sedikit.” (Al-Isra’ : 85)

Siapa pun yang hendak menempuh Jalan Allah Azza wa-Jalla, hendaknya ia membersihkan dirinya sebelum ia suluk. Sebab nafsu selalu su’ul adab, karena ia terus mendorong untuk keburukan.

Hati-hati, anda sedang beramal di sisi Allah Azza wa-Jalla, lalau bagaimana anda berjalan menuju kepadaNya? Maka perangilah nafsumu, hingga ia tenang. Jika ia tenang maka ia akan mengikutimu menuju pintuNya. Jangan sampai berselaras dengan nafsu kecuali setelah anda membersihkannya, setelah mengajarinya, dan beradab yang bagus serta tenang pada janji Allah Azza wa-Jalla dan ancamanNya.

Nafsu itu buta, pekak, bisu, kotor dan lumpuh serta bodoh terhadap Tuhannya Azza wa-Jalla. Dan itu butuh kendali, butuh pembimbing dan waktu yang panjang, waktu demi waktu, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun. Maka, beranikan dirimu dan jangan takut dengan pedang nafsu, tajamnya mata pedangnya dari besi yang keras kasar.

Nafsu hanya bicara tak pernah bertindak, dusta tanpa kejujuran, janji tanpa menepati. Tak ada cinta, dan ia mengembara tanpa negeri. Iblis adalah pemimpinnya. Dan nafsu tidak memiliki kekuatan untuk memusuhi dan kontra di hadapan orang beriman yang benar-benar dekat pada Allah Azza wa-Jalla.

Bagaimana mungkin? Karenanya jangan menduga bila Iblis masuk syurga dan mampu mengeluarkan Adam as, dari syurga itu semata karena kekuatannya. Namun karena Allah Azza wa-Jalla memberikan kekuatan, dan menjadikannya sebagai sebab belaka, bukan sebagai asal akarnya.

Hai orang yang akalnya picik, jangan sampai kalian lari dari pintu Allah Azza wa-Jalla, hanya karena cobaan yang menimpamu. Karena Dia lebih Tahu apa yang baik bagimu. Allah tidak memberikan cobaan padamu melainkan demi faedah dan guna. Bila Allah memberikan cobaan padamu, maka refleksikan dirimu akan dosa-dosamu, perbanyak istighfar, taubat, dan memohon kesabaran dan kekokohan. Tetaplah di hadapanNya, dan bergelayutlah pada belas kasihNya, dan mohonlah agar diberi jalan keluar dari cobaan itu, serta penjelasan arah kebajikan di dalamnya.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai pentingnya introspeksi diri sebagai landasan kita untuk berubah menjadi lebih baik di kemudian hari.amin..
»»  READMORE...
READ MORE - Memperbaiki Diri Sendiri