~ It's simple. Just say what you want (Don't say what you don't want)... ~

Friday, November 5, 2010

MEMAHAMI EKSISTENSI HIDUP MANUSIA DI DUNIA DALAM WEWARAH SYEKH SITI JENAR

Tulisan ini saya tulis berdasarkan Buku KISAH DAN AJARAN SYEKH SITI JENAR,

Karya MB RAHIMSYAH, Penerbit KARYA AGUNG Surabaya ......


Di dalam Babad Tanah Jawa gancaran Poerwaredja yang dikutip disebutkan

kang cinipta donya ngaran laya terciptanya dunia disebutkan sebagai kematian

jroning pati swarga nraka di dalam kematian inilah terdapat surga dan neraka

bagya cilaka pinanggih juga pertemuan dengan bahagia dan celaka

yeku gumelaring donya iya demikian itulah adanya hidup di dunia

cocok dalil Smarakandi cocok dengan paparan Smarakandi

analmayit pikutri (fikobri)

wa yajidu kalibahu

satuhune wong pejah sebenar-benarnya orang mati

rumaket jiwangga manggih jiwanya menemukan

geganjaran swarga lawan neraka ganjaran surga atau neraka

Hidup di dunia tidak lain dan tidak bukan adalah kematian...semua manusia yang hidup di dunia tidak lain dan tidak bukan adalah mayat-mayat yang bergentayangan, "ZOMBIE", yang berada di dalam surga atau neraka....surga adalah kebahagiaan, kesengsaraan adalah neraka.........orang kaya yang sengsara sesungguhnya berada di dalam neraka...orang miskin yang penuh kebahagiaan sesungguh-sungguhnya berada di dalam surga.......

ILMU KASAMPURNAN KEJAWEN "MATI SAJRONING URIP" ...

YAITU EGO, EGOISME, EGOSENTRIS KITA, KITA NONAKTIFKAN SAMPAI TITIK O ATAU ZERO ATAU KOSONG ATAU SUWUNG ......

Banyak orang bertanya bagaimana caranya? .......

CARANYA HANYA DENGAN :

  1. SABAR DARANA ARTINYA SABAR SESABAR-SABARNYA TANPA BATAS, WALAUPUN HARUS MENGHADAPI APA PUN JUA, WALAUPUN HARUS MENERIMA PERLAKUAN YANG BAGAIMANA PUN JUA, WALAUPUN HARUS MENERIMA KATA-KATA YANG BAGAIMANA PUN JUA
  2. RILA ATAU RELA APABILA KEHILANGAN APA PUN JUGA, KEHILANGAN HARTA BENDA, KEHILANGAN HARGA DIRI, KEHILANGAN NAMA BAIK, KEHILANGAN PEKERJAAN, KEHILANGAN KEPERCAYAAN, KEHILANAGN SEMUA YANG KITA CINTAI YANG KITA SAYANGI, KEHILANGAN DIRI KITA SENDIRI, KEHILANGAN NYAWA KITA SENDIRI SEPERTI SOCRATES...SEPERTI YESUS KRISTUS DARI NAZARETH...SEPERTI AL HALLAJJ...SEPERTI SYEKH SITI JENAR....dan juga mungkin seperti mBah Marijan Juru Kunci Gunung Merapi ......
  3. NARIMA ING PANDUMING URIP ATAU MENSYUKURI SEMUA ANUGERAH TUHAN YANG DIBERIKAN KEPADA KITA DALAM BENTUK APA PUN JUGA, DALAM BENTUK RAGA, ORANGTUA, STATUS SOSIAL, KEKAYAAN, REJEKI, JODOH, PEKERJAAN, KEPANDAIAN, KECERDASAN, WARNA KULIT, BANGSA, NEGARA, KETAMPANAN, KECANTIKAN, ANAK, LINGKUNGAN HIDUP, LINGKUNGAN PERGAULAN, KELEMAHAN, KEKURANGAN, CACAT, CELA, SIFAT-SIFAT BURUK, SIFAT-SIFAT BAIK PEMBAWAAN SEJAK LAHIR ........
  4. IKHLAS ARTINYA MELAKUKAN SEMUA YANG TERSEBUT DI ATAS ITU TANPA PAMRIH SEDIKIT PUN UNTUK KEPENTINGAN DIRI SENDIRI YAITU KEPENTINGAN UNTUK MASUK SURGA ATAU KEPENTINGAN UNTUK DAPAT TERHINDAR DARI SIKSAAN API NERAKA .......
Demikianlah, semoga uraian yang sangat sederhana ini dapat berguna
»»  READMORE...
READ MORE - MEMAHAMI EKSISTENSI HIDUP MANUSIA DI DUNIA DALAM WEWARAH SYEKH SITI JENAR

MAKNA SPIRITUAL TEMBANG DOLANAN ILIR-ILIR

Kata-katanya demikian :

LIR ILIR, LIR ILIR, TANDURE WIS SUMILIR lir ilir, lir ilir, tanamannya sudah tumbuh subur

TAK IJO ROYO-ROYO, TAKSENGGUH PENGANTEN ANYAR sungguh sangat indah terhampar menghijau, seperti temantin baru

CAH ANGON, CAH ANGON, PENEKNA BLIMBING KUWI wahai, anak gembala, panjatkanlah buah belimbing itu

LUNYU LUNYU YA PENEKNA, TAKNGGO MASUH DODOTIRA panjatkanlah, biar licin sekali pun, untuk mencuci jarikmu

DODOTIRA DODOTIRA KUMITIR BEDHAH ING PINGGIR jarikmu robek di pinggir

DONDOMANA JLUMATANA, TAKNGGO SEBA MENGKO SORE jahitlah untuk saya pergunakan menghadap raja nanti sore

MUMPUNG JEMBAR KALANGANE selagi masih luas arenanya

MUMPUNG PADHANG REMBULANE selagi bulan masih bersinar terang

SUN SURAKA SURAK HORE aku pun bersorak gembira, bersorak horeee

Lagu tersebut di atas adalah lagu dolanan anak-anak yang dahulu setiap hari ditembangkan oleh anak-anak kecil dan anak-anak besar pada waktu sore hari menjelang malam. Mereka bermain di halaman rumah yang pada umumnya luas. Bergembira sampai kurang lebih jam makan malam.

Di sinilah letak kebijaksanaan para Leluhur Jawa. Mereka sungguh sangat mengerti mengenai laku hidup rohani dan tuntunan hidup rohani dari TUHAN yang selalu saja dibungkus di dalam SANEPA-SANEPA yang sangat halus sekali seperti halnya YESUS pun mengajar dengan mempergunakan CERITERA-CERITERA PERUMPAMAAN. Diturunkan di dalam bentuk tembang dolanan yang sederhana supaya mudah dihafal dan mudah diingat dari anak-anak kecil sampai orang-orang dewasa.

Ada pun makna spiritual Tembang ILIR ILIR adalah:

  1. ILIR adalah tepas besar yang dipergunakan untuk mendinginkan nasi yang baru saja diangkat dari tempat menanak nasi. Hal ini mengajarkan bahwa kita harus selalu mendinginkan atau angleremake pakarti hawa nafsu yang panas, supaya semua pola berpikir, pola bertutur kata, serta pola peri laku hidup kita sehari-hari tidak ditunggangi hawa nafsu, yang akan selalu menjerumuskan kita di dalam hidup tidak beriman kepada TUHAN.
  2. TANAMAN YANG TAMPAK TERHAMPAR MENGHIJAU mengajarkan apabila Iman sudah mulai tumbuh subur akan terwujudlah hidup manunggal utuh antara Roh Jiwa dan Raga, antara Raga Jiwa dan Roh. Roh memimpin seluruh pribadi, sehingga sungguh-sungguh terwujudlah hidup "LAHIR UTUSANING BATIN" kelahiran yang nampak adalah utusan batin satunya kata dan perbuatan satunya jiwa dan raga satunya Roh dan raga satunya dalam dan luar yang menumbuhkan PENGHARAPAN YANG TERANG BENDERANG AKAN HIDUP MENDATANG seperti halnya pengantin baru yang penuh harapan.
  3. CAH ANGON CAH ANGON PENEKNA BLIMBING KUWI ..... WAHAI, ANAK GEMBALA, PANJATKANLAH BUAH BELIMBING ITU menunjukkan dialog antara Roh dan Raga ... LUNYU LUNYU YA PENEKNA TAKNGGO MASUH DODOTIRA ... PANJATKANLAH, WALAU PUN LICIN SEKALI PUN UNTUK MENCUCI JARIK ATAU AGEMAN .... Roh membimbing Raga untuk mau bersusah payah menjalani laku spiritual untuk memetik sarana untuk membersihkan seluruh diri dari segala kekotoran dosa..... DODOTIRA DODOTIRA KUMITIR BEDHAH ING PINGGIR DONDOMANA JLUMATANA TAKNGGO SEBA MENGKO SORE.....ageman itu robek di pinggir jahitlah untuk saya pergunakan menghadap Raja nanti sore .... Roh membimbing raga untuk menjalani laku spiritual untuk mempersatukan untuk membuat utuh kembali bagian-bagian yang terpisah yang tidak menyatu sehingga manunggal menyatu untuk menghadap TUHAN DI DALAM LAKU SAMADI ... PADA WAKTU SEBA MENGHADAP RAJA SEMUA KAWULA HANYA DIAM SIAP APABILA SEWAKTU-WAKTU RAJA BERTITAH ATAU BERTANYA SESUATU KEPADANYA .... YANG DIMAKSUDKAN ADALAH MENJALANI LAKU SAMADI ... ATAU SEMEDI SEMELEH ING GUSTI ....
  4. MUMPUNG JEMBAR KALANGANE MUMPUNG PADHANG REMBULANE .... artinya selagi diberi kesempatan hidup yang luas dan bebas dan diberi Anugerah Limpahan Rahmat dan Berkat yang tak terbatas oleh TUHAN
  5. SUN SURAKA SURAK HOREE ........ Roh bersuka cita selalu bersyukur menyembah memuji memuliakan TUHAN atas semua Anugerah yang selalu dilimpahkan TUHAN kepada seluruh diri ini ...........

TUHAN SELALU MENYERTAI DAN MEMBIMBING KITA SEMUA.amin.....



»»  READMORE...
READ MORE - MAKNA SPIRITUAL TEMBANG DOLANAN ILIR-ILIR

Thursday, November 4, 2010

TAPA BRATA DI DALAM KEHIDUPAN SEHARI²

Referensi ini saya persembahkan dari KITAB PRIMBON ATASSADHUR ADAMMAKNA, Cap-Capan Kaping 9, Wulan September 2005, Seri Adammakna, Jilidan Angka Sanga, Kawedalaken dening Ny. Siti Woeryan Soemodiyah Noeradya, Penerbit Soemodidjojo Maha Dewa, ing Praja Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebaiknya orang hidup haruslah menjalani TAPA BRATA seperti di bawah ini:

  1. TAPANING BADAN, haruslah rendah hati, dan haruslah rajin berbuat kebaikan serta kebajikan
  2. TAPANING MANAH, "narima", tidakmenginginkan melakukan yang jahat-jahat
  3. TAPANING NAPSU, "rila" dan sabar di dalam menghadapi segala macam pencobaan dan penderitaan, mengampuni kesalahan orang lain
  4. TAPANING SUKMA, jujur, bersungguh hati, tidak jahil, tidak iri, tidak dengki, tidak suka mudah mencela orang lain
  5. TAPANING RASA, sabar di dalam segala kehendak dan sangat menyadari bahwa dirinya penuh dosa
  6. TAPANING CAHYA, haruslah selalu berusaha banyak berdiam diri di dalam "eneng", haruslah selalu berusaha banyak di dalam kondisi tenang tenteram hatinya "lerem tentrem" hatinya di dalam kondisi "ening" hening selalu...
  7. TAPANING GESANG, selalu waspada akan segala gerak hawa nafsu sendiri dan selalu "eling" bahwa kita adalah ciptaan yang sepantasnya taat patuh menyembah dan mengabdi kepada TUHAN......
Di samping itu kita juga harus melakukan :

  1. TAPANING KARNA (TELINGA), tidak mengikuti dorongan hawa nafsu, tidak senang mendengarkan semua hal yang buruk-buruk
  2. TAPANING GRANA (HIDUNG), tidak senang mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain
  3. TAPANING LESAN (MULUT), mengurangi makan, tidak senang bergosip membicarakan kejelekan orang lain
  4. TAPANING PURUSA (PENIS), mengurangi bersenggama, tidak senang selingkuh dengan siapa pun juga
  5. TAPANING ASTA (TANGAN), tidak senang mengambil yang bukan miliknya, dan tidak senang memukul atau menampar orang lain
  6. TAPANING SUKU (KAKI), tidak senang berjalan di jalan kejahatan, dan setiap saat senang berjalan di jalan laku samadi

TIDURLAH APABILA MAU MARAH (TURUA YEN AREP NESU)

DARIPADA TIDUR LEBIH BAIK BERJAGA (KATIMBANG TURU BECIK TANGI)

DARIPADA HANYA BERJAGA LEBIH BAIK MEMBUKA MATA (KATIMBANG TANGI BECIK MELEK)

DARIPADA HANYA MEMBUKA MATA LEBIH BAIK DUDUK (KATIMBANG MELEK BECIK LUNGGUH)

DARIPADA HANYA DUDUK LEBIH BAIK BERDIRI (KATIMBANG LUNGGUH BECIK NGADEG)

DARIPADA HANYA BERDIRI LEBIH BAIK BERJALAN (KATIMBANG NGADEG BECIK LUMAKU)

Itulah cara melakukan TAPA BRATA di dalam kehidupan kita sehari-hari supaya hidup selalu rahayu damai sejahtera penuh kasih sayang kepada sesama....


»»  READMORE...
READ MORE - TAPA BRATA DI DALAM KEHIDUPAN SEHARI²

Thursday, October 21, 2010

Antara AKU dan DIA











Bukanlah aku dan bukanlah DIA, siapa aku dan siapa DIA?,

DIA bukanlah aku dan aku bukanlah DIA,

Aku bukanlah aku dan DIA bukanlah DIA,

Seandainya DIA adalah apa yang kita lihat dengan mata kita,

tentu tidak ada di dalam kehidupan ini selain kami,

yaitu aku dan DIA , dan DIA dan DIA'

Siapakah bagi kita,

dengan kita dan untuk Kita,

seperti siapakah bagi DIA, dengan DIA dan untuk DIA,

Aku adalah orang yang aku cintai,

dan orang yang mencintai adalah aku,

tidak ada dalam bingkai kaca bayangan selain kita.

Para penyanyi telah lupa kala ia menyanyi, kami adalah dua Ruh dalam satu jasad.

Dengan terang-terangan DIA telah menetapkan sekutu bagiNYA,

semua orang berusaha memisahkan kita,

Aku tidak pernah berdo'a dan ingat padaNYA,

sesungguhnya ingat dan do'aku hanyalah "Wahai Diriku".

~Al Hallaj~


Di dalam kemuliaan tiada aku, atau Engkau atau kita,
Aku, Kita, Engkau dan Dia seluruhnya menyatu.

(Sufi Agung Al-Hallaj)







































by Harry Up on Wednesday, October 20, 2010 at 11:46pm
»»  READMORE...
READ MORE - Antara AKU dan DIA

SEKILAS MA’RIFAT: KETIKA JAWA DAN PERSIA DEMIKIAN HARMONI



Saya mengakui dengan jujur, bahwa saat ini, saya sedang meniti jalan setapak – sebuah titian ruhani, menuju puncak yang masih misteri. Jelas, saya masih belum berada di puncak itu, mungkin masih di lerengnya, kadang terperosok ke dalam lembah, lalu di kala lain, bersusah payah naik ke atas, mendaki mendekati puncak itu. Ada hasrat menggelegak untuk tahu, sebetulnya puncak itu seperti apa, dan ada apa di sana.

Hari ini, saya buka hati ini, untuk mendapatkan seberkas cahaya, dan setumpuk informasi, dari orang-orang bijak yang telah mencapai puncak itu. Lalu, saya biarkan jemari ini mengalirkan apa yang semula memasuki hati. Semoga itu merupakan salah satu bukti, terkabulnya doa saya, agar saya menjadi penebar terang, penyampai kesejatian.

KGPAA Mangkunegoro IV, menyampaikan pengalaman pribadinya, bahwa ketika telah sampai puncak, seseorang menjadi sadar sepenuhnya akan hakikat dan rahasia kehidupan. Beliau mendendangkan dalam Serat Wedhatama: “ Dene awas tegesipun, weruh waranane urip, miwah wisesaning tunggal, kang atunggil rina wengi, kang mukitan ing sakarsa, gumelar alam sakalir.” Mereka yang telah waspada , telah dengan jelas mengetahui rahasia kehidupan, tirai kegaiban telah terbuka. Ia menyaksikan Sang Maha Hidup di balik segenap gerak kehidupan, Wujud Yang Mahatunggal meliputi segalanya. Dia yang menggerakkan segalanya dan mewujudkan segenap kehendak, maka terhamparlah segala peristiwa alam semesta.”

Yang ghaib, bagi mereka yang telah menggapai puncak, disadari sebagai sesuatu yang nyata. Semuanya menjadi demikian jelas: apa yang misteri itu telah membuka wujudnya. Namun, ternyata, saat yang sama, mereka yang telah sampai ke puncak disadarkan pada sebuah kesadaran, bahwa: “SEJATINE ORA ONO OPO-OPO, SING ONO KUWI DUDU” Sesungguhnya tidak ada apa2, yang ada itu bukan. Apa yang kita anggap ADA, tidak ada seperti lazimnya adanya yang lain, termasuk adanya kata ada itu. Apa yang kita sangka sebagai Dia, bukanlah Dia itu sendiri. Semua persangkaan kita, bukanlah Realitas itu sendiri. Dan tetaplah Dia sebagai Dzat “ingkang tan kena kinira, tan kena kinaya ngapa”.

Mereka yang telah sampai dipuncak, akhirnya menyadari bahwa misteri itu, menjadi nyata sekaligus tetap menjadi misteri.

Maka, sebagai ungkapan manusawi dari misteri itu, bersyairlah Mansyur Al-Hallaj:

“Aku orang yang mencinta dan Dia yang mencinta adalah Aku

Kami dua ruh yang melebur dalam satu tubuh

Bila kau memandangku, kau memandang-Nya

Bila kau memandang-Nya, kau memandang Kami.

(Diwan 57)

Ruh-Mu menyerap dalam ruhku

Bagai anggur larut pada air bening

Bila suatu menyentuh-Mu, ia menyentuhku

Engkau adalah aku dalam seluruh

(Diwan 47)

Kata-kata Al-Hallaj yang terkesan paradoks, menjelaskan fakta bahwa dia bisa menyaksikan Yang Misteri itu dalam segala hal, termasuk dirinya sendiri, sehingga yang ada hanya Dia: bahkan dirinya, hakikinya adalah Dia juga. Dengan pernyataan seperti ini, sesungguhnya Al-Hallaj menegaskan satu hal: di balik yang kosong, sesungguhnya ada Dia, tetapi adanya Dia tak bisa sama dengan adanya wujud lain, yang terpisah dari yang mengatakan keberadaannya. Bagi al-Hallaj, yang mengatakan ada dan Yang Ada itu sebetulnya satu...tak terpisahkan...dan sebetulnya dengan demikian, tak bisa dilihat sebagai sesuatu yang ada secara obyektif.

Walhasil......tetaplah yang misteri itu menjadi Misteri...

Syeikh Siti Jenar...menggapai kesadaran yang sama dengan Al-Hallaj, dan menyatakan dengan tegas:

IYA INGSUN IKI ALLAH. (IYA AKU INI TUHAN).

Nyatalah AKU yang Sejati, Bergelar Prabhu Sadmata ( Raja bermata enam. Shiva adalah Avatara Brahman. Jika Shiva bermata tiga, maka Brahman bermata enam. Inilah maksud 'jargon' spiritual waktu itu). Tidak ada lagi yang lain, Apa yang disebut Allah itu. Maulana Maghribi berkata, Yang anda tunjuk itu adalah jasad,Syeh Lemah Bang menjawab.

Hamba membuka rahasia Ilmu Sejati, Membahas tentang Kesatuan Wujud,Tidak membahas Jasad (yang fana), Jasad sudah terlampaui, Yang saya ucapkan adalah Sejati-nya Ilmu, Membuka Segala Rahasia.

Dan lagi sesungguhnya semua Ilmu, Tidak ada yang berbeda, Sungguh tiada beda, Sedikitpun tidak, Menurut pendapat hamba, Meyakini bahwasanya Ilmu itu, Semuanya sama.

Dia ada yang karena ada yang mengatakan keberadaannya. Bagi yang mengatakan itu, di luar sana sebetulnya yang dilihat adalah Kekosongan Abadi.....Pernyataan ada itu sesungguhnya merujuk pada keberadan diri, pada keberadaan kesadaran...rahsa sejati....yang secara kekal akan tetap menjadi misteri.

Jiwa Yang Tak Lagi Tersekat

Jalaluddin Rumi, salah satu pejalan ruhani yang telah menggapai puncak, berdendang indah, “Manusia Ilahi, berada di luar kekafiran dan agama...Aku telah melihat ke dalam sanubariku sendiri; di sanalah aku melihat-Nya; Dia tidak ada di tempat yang lainnya..Aku bukan orang Kristen, atau Yahudi, atau Penyembah Api, atau Muslim; aku bukan berasal dari Timur maupun Barat, bukan dari bumi maupun laut...Aku telah mengesampingkan kemenduaan, aku telah mengetahui bahwa kedua dunia itu satu adanya. Satu saja yang kucari, Satu saja yang kukenal, Satu saja yang kulihat, Satu saja yang kuseru.”

Rumi menyaksikan bahwa semuanya berasal dari yang Satu, bayangan dari yang Satu itu, yang hakikatnya adalah kekosongan, sehingga segenap nama dan atribut itu tak lagi memadai. Setiap nama dan atribut, sesungguhnya bukanlah yang Satu itu..melainkan sekedar gumpalan imajinasi di dalam benak, yang tak mewakili Realitas sesungguhnya... yang Satu itu. Dan makna dari yang Satu ini sesungguhnya adalah Yang Maha Meliputi...yang tak menyisakan setitikpun ruang kosong....yang tak memungkinkan adanya yang lain.

Karena kesadaran itu pula, maka Rumi sekaligus terhubung dengan semua lokus di mana bayangan yang Satu itu terlihat: ia terhubung dengan semua jiwa. Rumi berkesadaran, bahwa dirinya, sebagaimana diri kita, sama dengan semua manusia, yang sering menyebut dan mengatributi dirinya dengan nama Muslim, Nasrani, Majusi, dan lainnya. Rumi dan juga kita sama dengan mereka pada tataran hakikat, tapi Rumi menolak disekat oleh nama dan atribut yang membuat ia bisa menyatu dengan sebagian dan berpisah dengan lainnya.

Kesadaran tanpa sekat ini, juga yang membalut jiwa Husain Mansyur al Hallaj. Ia dengan jernih mengatakan: “Anakku, semua agama adalah milik Allah. Setiap golongan memeluknya bukan karena pilihannya, tetapi dipilihkan Tuhan. Orang yang mencaci orang lain dengan menyalahkan agamanya, dia telah memaksakan kehendaknya sendiri. Ingatlah, bahwa Yahudi, Nasrani, Islam dan lain-lain adalah sebutan-sebutan dan nama-nama yang berbeda. Tetapi tujuannya tidak berbeda dan tidak berubah”.

Lebih jauh, Al-Hallaj juga mendendang sebagai berikut:

“Sungguh, aku telah merenung panjang agama-agama

Aku temukan satu akar dengan begitu banyak cabang

Jangan kau paksa orang memeluk satu saja

Karena akan memalingkannya dari akar yang menghunjam

Seyogyanya biar dia mencari akar itu sendiri

Akar itu akan menyingkap seluruh keanggunan dan sejuta makna

Lalu dia akan mengerti"

(Diwan, 50)

Dan jangan dilupakan, seorang Mistikus lain, yang disebut Syaikh Al-Akbar: Muhyiddin Ibnu Arabi. Ialah sang mistikus yang terkenal dengan syairnya:

"Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa;

ia merupakan padang rumput bagi menjangan,

biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka`bah tempat orang bertawaf,

batu tulis untuk Taurat, dan mushaf bagi al-Qur'an.

Agamaku adalah agama cinta,

yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya;

itulah agama dan keimananku."

Bagi mereka yang telah sampai di puncak....semuanya itu Manunggal...kita adalah sesama pancaran dari Yang Mahatunggal itu. Apa yang kita sebut sebagai kebenaran, adalah pancaran dari Kebenaran yang Tunggal. Agama-agama, adalah bentuk2 yang berbeda dan esensi yang sama.

Selaras dengan itu, leluhur Nusantara, menyadari dengan jelas bahwa agama itu tak lebih dari sekadar jalan menuju Yang Mutlak, atau bahkan “pakaian” yang menjadi penting bukan pada aspek dan warnanya, tetapi pada aspek fungsinya. Salah satu leluhur itu adalah Empu Tantular, pengarang Kakawin Sutasoma, yang melahirkan falsafah Bhinneka Tunggal Ika:

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kêna parwanosên, Mangka ng Jinattwa kalawan Śiwatattwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Buddha & Syiwa merupakan dua hal yang berbeda. Memang berbeda &nkeduanya tak bisa dikenali, Akan tetapi kebenaran Jina (Buddha) dan Syiwa ... adalah tunggal, Sesungguhnya berbeda tetap satu juga tidak ada kebenaran yg mendua.

Cara Menggapai Kesadaran Puncak

Sampai pada kesadaran sebagaimana terpapar di atas, susah-susag gampang. Menjadi susah, jika kita terbiasa dengan cara beragama yang doktriner, mengabaikan kecemerlangan akal budi dan keakuratan rahsa sejati. Maka, banyak orang yang dianggap ahli agama, tidak pernah bisa menyadari bahwa apa yang dinyatakan Rumi, Al-Hallaj, Ibnu Arabi dan para leluhur Jawa, sesungguhnya adalah kebenaran.

Bahkan, sungguh menggelikan, ada cendekiawan, yang mengaku sudah membaca Futuhat Al Makiyyah dan berbagai karya Ibnu Arabi lainnya, tidak percaya bahwa Ibnu Arabi punya jiwa yang lapang dan meyakini bahwa jalan menuju Tuhan itu tak terbatas bentuknya.

Betapa tidak menggelikan, ketika ada seorang yang mengaku ahli agama dan memahami pandangan Ibnu Arabi, mengartikan agama cinta itu sebagai agama Islam (ajaran Muhammad)....yang punya makna agama-agama yang lain bukan agama cinta.

Padahal, seorang petani lugu, atau bahkan remaja yang polos, dengan nuraninya yang terjaga, akan dengan mudah menyadari kebenaran yang disampaikan Ibnu Arabi. Tak usah dia membaca Futuhat Al-Makiyyah, cukup dengan menengok pada rahsa sejati...akan bisa didapatkan kesadaran bahwa kita sebetulnya adalah bentuk-bentuk yang berbeda tetapi diikat oleh sesuatu yang sama: Sang Hidup yang mengalir melalui nafas kita. Dan Sang Hidup itu membuat kita ada, hidup, dengan Cinta...maka agama cinta yang sesungguhnya adalah menghayati dan menebar cinta kepada semua makhluk yang dihidupi oleh Sang Hidup itu sendiri.

Terakhir, yang menarik untuk disimak, adalah bahwa ternyata, para mistikus Islam yang disebutkan di atas: Rumi, Al-Hallaj, dan Ibnu Arabi, punya akar yang sama, yaitu Tradisi Persia. Sintesis antara Persia dan Islam, membuat Islam ala mereka sungguh mempesona. Kita bisa melihat, Islam yang demikian, selaras, harmoni dengan ajaran leluhur di Tanah Jawa. Maka, apapun agama Anda, mengapa Anda tak hidupkan tradisi leluhur Anda sendiri? Karena itu yang akan membuat pribadi dan pandangan Anda mempesona...laksana gemintang di langit yang cahayanya menembus segenap sekat gelap....




by Satria Pengging on Thursday, October 21, 2010 at 12:29pm

»»  READMORE...
READ MORE - SEKILAS MA’RIFAT: KETIKA JAWA DAN PERSIA DEMIKIAN HARMONI

Friday, October 15, 2010

KETIKA BERBAGAI RASA BERGEJOLAK DI DALAM DADA





Ketika suara-suara kasar menghardik masuk ke telinga.....terasa rasa sakit di dalam hati...di dalam dada...sadarilah di dalam keheningan hati....kendalikanlah diri....kuasailah diri.....tahanlah jangan sampai keluar reaksi negatif yang mulai bergolak di dalam hati...di dalam dada.....perlahan-lahan endapkanlah rasa tersebut di dalam keheningan hati........hening...hening...eling semua itu terjadi atas perkenan TUHAN untuk menyucikan jiwa raga kita.........

ketika suara-suara cemooh, hinaan, hujat, caci maki, fitnah, sindiran tajam, gosip negatif masuk telinga....terasa rasa sakit, kecewa, tersinggung, malu, marah, dendam di dalam hati...di dalam dada....mulai terasa getar panas naik ke atas...kemarahan, kekecewaan, sakit hati, malu, dendam mulai mendidih, menggelegak.........sadarilah di dalam keheningan hati.....kendalikanlah diri.....kuasailah diri.......tahanlah diri jangan sampai keluar reaksi negatif yang mulai bergolak di dalam hati....di dalam dada.....perlahan-lahan endapkanlah rasa tersebut di dalam keheningan hati.........hening...hening...eling bahwa semua itu terjadi atas perkenan TUHAN untuk menyucikan jiwa raga kita............

ketika kata-kata pujian, sanjungan masuk telinga.......terasa rasa senang, gembira, terharu, bangga, puas, sombong, merasa lebih dari orang lain mulai bergetar menggelembung di dalam hati...di dalam dada.....sadarilah di dalam keheningan hati....kendalikanlah diri....kuasailah diri.....tahanlah diri jangan sampai rasa itu membesar, menggelembung sangat besar dan menguasai seluruh kepribadian........perlahan-lahan endapkanlah semua rasa tersebut di dalam keheningan hati...hening...hening...eling bahwa semua itu terjadi atas perkenan TUHAN untuk menguji seberapa besar Iman kita, seberapa besar kerendahhatian kita, seberapa tajam kepekaan hati kita akan semua gerak hawa nafsu kita............

ketika rasa iri, dengki, rakus. tamak mulai bergetar di dalam hati...di dalam dada.....terasa semakin membesar dan membesar di dalam hati...di dalam dada....sadarilah di dalam keheningan hati.......di dalam keheningan dada......perlahan-lahan endapkanlah semua rasa tersebut di dalam keheningan hati....di dalam keheningan dada......hening...hening....eling bahwa semua rasa itu adalah ujian TUHAN untuk menguji seberapa tajamkah rasa kita akan semua gerak hawa nafsu yang bergolak di dalam hati kita.......

ketika rasa gairah seksual, syahwat, libido seksualis mulai terasa bergetar di dalam hati...di dalam dada....mulai bergetar menyebar ke seluruh tubuh.......sadarilah di dalam keheningan hati...di dalam keheningan dada....kuasailah diri....tahanlah diri jangan sampai rasa itu menguasai seluruh kepribadian kita........perlahan-lahan endapkanlah di dalam keheningan hati...di dalam keheningan dada.......hening...hening....eling bahwa rasa itu hanya diperkenankan TUHAN kita salurkan dengan penuh kasih hanya kepada istri atau suami kita saja..........

JAGALAH SELALU KEHENINGAN HATI...KEHENINGAN JIWA...KEHENINGAN SANUBARI....KEHENINGAN KALBU......KEHENINGAN DADA.......DENGAN SELALU SETIAP DETIK SETIAP SAAT SETIAP WAKTU BERSERAH DIRI TOTAL SUMARAH HANYA KEPADA TUHAN SAJA....


»»  READMORE...
READ MORE - KETIKA BERBAGAI RASA BERGEJOLAK DI DALAM DADA

TUHAN DI MATA ORANG JAWA




Secara filosofis, faham Jawa mengakui adanya kepercayaan kepada Gusti Allah atau Sang Hyang Tunggal, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, atau juga Sang Hyang Wenang, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan Yang Satu lagi Maha Kuasa bagi dan atas seluruh alam semesta.

Karena Tuhan itu hanya satu, maka Tuhan dari para pemeluk berbagai agama, pada hakikatnya adalah Tuhan yang sama. Persoalannya kemudian pada bagaimana jalan serta cara menuju Tuhan yang sama tadi.

Meskipun demikian, semua itu tetap terserah masing-masing, “bagimu agamu, bagiku agamaku”. Faham Jawa menghormati pemeluk kepercayaan dan agama lain seraya teguh memegang kepercayaan dan agamanya sendiri. Masing-masing orang mengukir nasibnya sendiri-sendiri. Manusia itu bagaikan wayang, yang dimainkan oleh dan terserah Sang Dalang, yaitu Sang Maha Sutradara, Tuhan Yang Maha kuasa. Sebagaimana halnya wayang, setiap peran sudah memiliki skenarionya masing-masing. Orang lain hanya sekedar, sakdermo, memberitahu serta mengingatkan mana yang baik dan mana yang buruk.

Oleh karena itu juga tidak mengherankan jika dalam satu keluarga Jawa, termasuk keluarga ibu dan bapak saya, dijumpai beberapa pemeluk agama yang berbeda.

"Tuhan itu hanya satu, maka Tuhan dari para pemeluk berbagai agama, pada hakikatnya adalah Tuhan yang sama. Persoalannya kemudian pada bagaimana jalan serta cara menuju Tuhan yang sama."


(Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan : halaman 14).

»»  READMORE...
READ MORE - TUHAN DI MATA ORANG JAWA